Featured Articles

Decoration

All Stories
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Desa dan kekhawatiran yang ada

Mungkin tidak ada data statistik yang ditampilkan disini, berpikir secara angka akan membuat kita lupa makna dari angka itu, terakhir saya ingat waktu kuliah sosiologi pertanian pada tahun 2004, disitu dikatakan bahwa secara statistik penguasaan lahan pertanian per kapita di Indonesia adalah 0,25 Ha. Angka rata-rata ini sangat tidak menggambarkan kondisi penguasaan lahan pertanian di desa saya sendiri, dimana banyak petani desa saya berubah jadi petani penggarap. Petani telah diambil kedaulatannya karena dipisahkan dari lahannya sendiri.

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, dan para pakar banyak merumuskannya dari berbagai pendekatan, mulai dari tingkat pendidikan petani yang rendah, dukungan pemerintah yang lemah, sampai kepada masalah kultural petani itu sendiri. Tingkat pendidikan mempengaruhi pola pikir yang susah menerima sesuatu yang baru (baik itu varietas baru, pupuk baru, atau cara budidaya yang baru). Peran pemerintah sendiri lebih pada menjaga harga gabah di tingkat petani untuk melindungi petani dan subsidi pupuk atau benih/bibit, sementara dukungan lembaga keuangan yang kredibel bagi petani di desa belum ada, selain itu infrastruktur desa (seperti jalan) juga menjadi kendala. Faktor budaya juga bertanggung jawab terhadap tingkat penguasaan lahan yang semakin rendah, dimana sistem waris membuat penguasaan lahan akan semakin kecil. Karena, ketika si A punya 1 Ha lahan dan punya 2 orang anak, maka lahan itu akan dibagi kepada kedua anaknya, dan begitu pun seterusnya. Sehingga, laju penguasaan lahan akan terus menurun.

Kondisi penguasaan lahan yang semakin kecil menjadi masalah tersendiri bagi petani, karena pewarisan lahan tidak diikuti oleh pewarisan keahlian bertani dari orang tua kepada anaknya. Sehingga tidak terjadi regenerasi yang mampu menopang perkembangan pertanian di desa-desa. Dan ketika pemodal dari luar desa yang melihat peluang ini mulai masuk, maka akan terjadi pemindahan penguasaan lahan. Suatu kondisi yang mengkhawatirkan, tentu saja, karena sebuah desa yang harusnya didorong untuk menjadi sebuah desa yang mandiri, kini telah kehilangan penguasaan lahanya sendiri.
Pada tahap ini, harusnya pemerintah desa mulai khawatir akan masa depan warga desanya. Mulai khawatir akan menyumbang urbanisasi yang menjadi masalah kota-kota besar, mulai khawatir apakah warganya punya cukup beras untuk dimakan, mulai khawatir dari mana warganya mendapatkan penghasilan. Ini masalah nyata yang telah-sedang terjadi dan bisa berdampak signifikan terhadap jumlah warga negara yang masuk kategori miskin karena tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap. Tidak perlu data statistik yang banyak, bahkan jikalau ini hanya terjadi pada satu orang warga negara Indonesia yang merdeka, maka kemerdekaan kita sudah gagal mewujudkan cita-cita luhurnya, yaitu negara yang adil dan makmur berlandaskan pancasila dan undang-undang dasar.

Saya sudah khawatir dengan kondisi ini, dan saya telah membagikan kekhawatiran ini untuk sama-sama kita mulai khawatir dan lebih peduli. karena hanya dengan kepedulianlah, kita bisa melihat masalah yang terjadi dengan hati. Karena saya bercita-cita, suatu saat nanti, desa saya akan menjadi desa yang mandiri, desa yang bisa menjamin setiap warganya punya penghasilan yang layak di desanya sendiri. Desa yang bisa menghidupi warganya sendiri.

Kalau melihat struktur pemerintahan Indonesia, provinsi dibagi menjadi kabupaten, kemudian dibagi menjadi kecamatan, dan dibagi lagi menjadi desa. Seandainya fokus pembangunan Indonesia itu bertumpu di desa, maka akan menciptakan efek domino ke atas (kecamatan-kabupaten-provinsi-INDONESIA). Namun, yang terjadi sekarang adalah pembangunan dilakukan di kota provinsi dan kabupaten untuk mengharapkan efek domino ke bawah.

Salam,
zhae_onnet
10.44 - By zhae_onnet 0

Jumat, 07 Februari 2014

Golput sama dengan Pengecut


Memulai pagi seperti biasa, disambut dengan debu. Karena jalan disini tanpa guyuran aspal atau beton. Jalan yang menuntun Saya menjadi bagian dari komunitas kaum pekerja urban yang berteduh di bawah pohon Acacia dan Eucalyptus. Pohon-pohon iniyang menggantikan lebatnya pohon Bulian (eusderoxylon zwageri), Jelutung (Dyera spp), dan Pulai (Alstonia Scholaris)... maaf ngelantur, hehe.

Kaum pekerja seperti Saya, terikat pada aturan 8 jam kerja sehari dan 40 jam seminggu. Rutinitas yang kadang membuat gairah hidup yang monoton. Namun, karena ini katanya tahun politik, sedikit banyak mendengar juga berita hajatan besar yang akan di selenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Banyak juga Saya dengar nada-nada pesimis diantara semangat para calon anggota legislatif yang terpampang lewat baligo, spanduk, dll. Para calon berlomba-lomba memasang baligo dan spanduk agar lebih dikenal oleh calon pemilih, tapi karena 'saking' banyaknya, malah jadi ga kenal satu pun. Hehe..

Sedikit banyak juga, Saya menyaksikan hajatan yang tidak kalah serunya, niatnya mungkin bukan menyaingi promosi hajatan yang akan diselenggarakan oleh KPU, tapi aksi yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi stigma buruk buat para calon anggota legislatif yang akan berebut suara para pemilih. Nama-nama beken di dunia perpolitikan Indonesia tumbang tersangkut kasus korupsi. Menyakiti hati rakyat pemilih karena ketika dipercayakan untuk membela kepentingan rakyat pemilih, malah menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri.

Ini seperti dua hajatan yang kontra-produktif, disatu sisi KPU mempromosikan pemilu kepada masyarakat pemilih agar berpartisipasi aktif untuk datang ke lokasi pemungutan suara, disisi lain KPK memberikan fakta perilaku korupsi wakil rakyat yang meninggalkan citra buruk seorang politisi. Bahkan Lembaga Survei Indonesia (LSI)memprediksi angka golput pemilu 2014 sebesar 50%.
Kenyataan memang seperti ini, Saya sempat marah dan berpikir untuk golput saja. Karena perilaku para politisi itu korup dan tidak memikirkan nasib rakyat. Saya berpikir, dengan memilih golput, Saya tidak menjadi bagian dari orang yang mendukung koruptor. Menjadi orang yang apatis dan tidak memilih adalah hal yang pantas untuk dilakukan untuk menghukum para koruptor. Tapi, Saya tersentak dan sadar. Bahwa Saya telah salah selama ini.

Justru, inilah kesempatan bagi Saya untuk melakukan perubahan bersama dengan 186 juta pemilih lain (menurut DPT di kpu.go.id). Karena perubahan tidak mungkin terjadi kalau Saya golput. Dengan mengambil sikap golput, berarti Saya tidak ambil bagian melakukan perubahan itu. Saya ingat, pernah baca tulisan bang Pandji, untuk mengajak melakukan perubahan bukan menuntut perubahan. Memilih untuk tidak golput sama dengan melakukan perubahan itu dari diri kita sendiri, Namun ketika memilih golput sama dengan seorang pengecut yang hanya menuntut perubahan, tanpa punya keberanian memilih dan melakukan perubahan.

Jadi..SAY NO TO GOLPUT!!
11.24 - By zhae_onnet 0

Sabtu, 26 Januari 2013

SAYA CINTA PETANI


Petani adalah profesi yang sudah ada sejak zaman pra sejarah, yaitu zaman dimana manusia belum mengenal tulisan. Pada awalnya, manusia hidup hanya dari alam. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka melakukannya dengan cara berburu dan hanya mengambil daun-daunan, buah-buahan, biji-bijian(serealia) dari alam, kemudian seiring dengan waktu mereka mulai belajar menanam/bertani dan beternak berpindah-pindah tempat. Sampai pada suatu waktu, berdasarkan akumulasi pengalaman, mereka mulai hidup menetap pada tempat-tempat yang subur dan dekat sumber air.Oleh karena itu, banyak kebudayaan-kebudayaan tumbuh dan berkembang pesat dekat dengan sungai. Seperti kebudayaan sungai Nil di Mesir, Kebudayaan sungai Indus di India, Kebudayaan sungai Kuning di China, dll.

Bertani dapat dikatakan sebagai suatu budaya, karena tumbuh dari interaksi manusia dengan alam, tumbuh dari interaksi manusia dengan manusia, tumbuh sebagai cara untuk mempertahankan diri, dan cara untuk hidup. Bahkan, kepercayaan animisme memuja dewi Sri untuk kelimpahan hasil panen padi. Dalam bahasa Inggris, Agriculture adalah kata yang digunakan untuk pertanian, dimana terdapat kata Agri dan culture yang memiliki arti budaya.

Bertani adalah nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dari interaksi manusia dengan alam. Nilai yang tumbuh dari memahami perilaku tumbuhan, menggali sifat-sifat tanah, dan merasakan faktor-faktor iklim. Namun, nilai-nilai itu mulai memudar dan bias. Petani mulai kehilangan jati diri dan mulai bimbang dengan profesinya, Petani mulai kehilangan kemandirian dan mulai mengharapkan bantuan beras murah dari pemerintah, dan yang paling menyedihkan adalah ketika Petani mulai kehilangan kedaulatan karena mulai kehilangan tanah garapannya. Seorang Raja menjual harga dirinya dan rela menjadi kacung di bekas kerajaanya, seorang tuan rumah yang menjual rumahnya dan menjadi pembantu, seorang petani yang menjual tanah garapannya dan menjadi petani penggarap. Ini adalah studi kasus di daerah Saya sendiri, Karawang, Jawa Barat. Dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat, tapi menerima porsi Raskin (Beras untuk orang miskin) yang terbesar. Ironis.

Melihat kenyataan ini, Saya risau bahkan marah entah pada siapa. Mungkin pada diri sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat apa yang telah sedang terjadi. Dengan tulisan ini, Saya mau berbagi apa yang Saya rasakan. Berbagi kegelisahan yang sama, kegelisahan yang dialami sebagian besar Petani gurem dan Petani penggarap. Maka sejak hari ini, selagi Saya masih sempat, Saya mau bilang : “SAYA CINTA PETANI”.
05.38 - By zhae_onnet 0

Kamis, 03 Mei 2012

KENAPA PACAR JADI CEREWET



Pacar atau pasangan sering membuat kita sebel dengan pesannya yang berulang-ulang dan kepengen memastikan itu dijalankan. Tujuannya tentu saja untuk kebaikan dia. Bila dia sakit, kekhawatiran yang berlebihan akan muncul dan membuat pacar berkomentar tentang pola makannya, tentang hobinya makan yang pedas-pedas, tentang dia yang males minum obat, dll. Sudah sakit, badan ga enak, mulut pahit, makan obat males, dll...ditambah lagi direwelin pacar tentang ini dan itu. Ini pacar ga ngerti banget seh, pacarnya lagi sakit bukannya disayang-sayang,dikasih perhatian, malah diceramahin ini itu.
Cerewet juga sebenarnya adalah bentuk perhatian, karena pacar mulai mengkhawatirkan tentang kesehatan dia, bukan hanya pada saat ini, tapi juga di waktu mendatang.

Dilema memang, niat baik tidak akan tersampaikan dengan baik, jika waktu dan tempatnya tidak pas. Dia yang sakit pengen dapet perhatian lebih, sementara pacarnya ga mau dia sakit dan ga mau terjadi lagi. Jadi ga bakalan nyambung deh. Trus gimana dong, masa ngasih tahu dia tentang sesuatu yang bagus buat dia jadi salah?, emosi juga dong jadinya... haha (hanya Tuhan yang tahu)

Untuk dia yang sakit..moga cepet sembuh aja deh
Pacarmu hanya mendoakan yang terbaik untuk kesehatanmu
14.37 - By zhae_onnet 0

Kamis, 26 April 2012

Desa sebagai Kekuatan Ekonomi




Judul di atas tidak berlebihan bukan? Indonesia sebagai negara memiliki tujuan luhur memeratakan kesejahteraan rakyat demi keadilan sosial. ukurannya adalah pendapatan per kapita yang kadang hanya menyamaratakan pada hitung-hitungan statistik, namun berapa banyak petani yang kehilangan lahannya karena dicaplok pemodal dari luar desanya dan hanya menjadi petani penggarap lahan yang hidupnya berada pada lingkaran kemiskinan yang tidak berpihak kepadanya. berapa besar laju penyempitan penguasaan lahan setiap tahun di Indonesia? hal ini penting karena sebagian besar penduduk Indonesia bermukim di desa, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. kalau hal ini terus berlanjut maka desa hanya akan menjadi produsen orang miskin.

Idenya begini, bagaimana kalau seandainya pola pembangunan bangsa ini dimulai dan berpusat pada aktifitas pertanian di pedesaan. tidak perlu subsidi pupuk pada tingkat produsen pupuk, buatlah subsidi langsung kepada petani untuk membeli pupuk, benih, dan sarana produksi pertanian lainnya. jadi dibikin semacam pilot projek yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia yang membuat percontohan sistem pertanian yang berorientasi pasar, petani dibina dan dilatih mengembangkan produk pertanian yang dapat diterima oleh pasar serta diajarkan dan dibimbing bagaimana memasarkan produknya melalui distribution channel pemerintah ataupun swasta.

14.36 - By zhae_onnet 0

Recent news

Blogroll

Discussion

© 2014 zhae_onnet. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9
Powered by Blogger.
back to top